Sebagai seorang pelukis, Hidajat LPd Barangkali bisa disebut sebagai sosok yang unik. Lahir di Jakarta pada 3 Mei 1945, kemudian pada usia 1 tahun pindah ke Garut, ia melewati masa kecil di kota dodol itu, namun kemudian mendewasakan diri di Jakarta. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat ( SR/Sekarang SD ), SMP, dan SMA di Bandung. Lepas SMA ia Masuk sekolah Camat, dan kemudian diangkat sebagai Camat di Karang Ampel Indramayu. Tapi hanya bertahan 3 bulan dan terpaksa "kabur" ke Bandung karena di kejar oleh PKI yang melakukan kudeta berdarah di Indonesia pada waktu itu. Di Bandung ia lantas masuk Fakultas Hukum Ekstension Universitas Padjadjaran. Ketika menjadi Mahasiswa inilah ia "terseret" sebagai aktivis dengan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) dan sempat menjabat sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Mahasiswa Islam ( LSMI ), yang berada dibawah HMI. Dalam status sebagai aktivis inilah ia ikut bergabung bersama sejumlah tokoh eksponen 66 dan turun ke jalan. Diluar kegiatannya sebagai aktivis, Hidajat pun sempat menerjunkan diri kedunia jurnalistik, dan selama bertahun tahun membuat film baik cerita maupun dokumenter. Ia pun termasuk penulis yang produktif, utama di tahun tahun 70-an nhingga pertengahan 80-an. Tulisan tulisannya dalam bentuk artikel, novel maupun cerita pendek, tersebar di sejumlah media terkemuka saat itu, termasuk Kompas, Suara Karya, Mingguan Mahasiswa Indonesia, majalah Ekspress, hingga buletin yang sifatnya "sembarangan". Selain itu, ia pun sempat bergiat di seni teater dengan mendirikan sebuah kelompok bernama teater bebas di Bandung, dimana ia tampil menjadi sutradaranya bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar ( Alm). memang, dunia kesenian nampaknya sudah menjadi "darah daging" baginya. Adalah Elan Surawisastra, seorang dalang di Bandung, yang menjadi "guru"-nya untuk berkenalan dengan kesenian. Karenanya, pada awalnya ia sebenarnya lebih bercita-cita menjadi dalang. Lalu ia juga intensif menjalani agama dengan belajar kepada Kiai Falaq, kiai terkemuka yang berusia 130 tahun di Bogor. Tapi, agaknya memang garis nasib telah menyeretnya menjadi pelukis bukan menjadi konglomerat, birokrat, atau politisi seperti tokoh angkatan 66 lainnya; ataupun menjadi seorang ulama. Pernah belajar pada Hendra Gunawan di Bandung pada usia sekitar 16 tahun, sejak saat itu boleh dibilang dunia seni lukis tak pernah lekang dari dirinya. dan meski tak pernah mengeceam pendidikan formal seni lukis, ia toh giat belajar kemana saja, sehingga pada akhir 50-an sudah mengajar melukis mahasiswa ITB di Studi Lukis Burangrang, Bandung. Pameran Pertamanya adalam pameran bersama di Sydney bersama para pelukis Sanggar Bambu yang diselenggarakan bersamaan dengan peresmian Opera House Sidney yang terkemuka itu. Selain Sidney, iapun pernah mengikuti pameran di Muenchen, Jerman, bahkan karyanya terpilih sebagai pemenang pertama pada kompetisi yang diselenggarakan pada saat itu. Setah itu, ia lebih banyak berpameran di dalam negeri. Selain Jakarta, ia pernah pameran di Surabaya, Ambon, dan tentu saja Bandung. Pameran tunggal ke 17-nya, baru saja selesai diselenggarakan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 1 - 9 Februari 2006 lalu, yang dibuka dan dihadiri oleh Ibu Burhanuddin Abdullah. Di pameran tersebut, "kang Dajat" menampilkan sekitar 50 koleksi lukisan karyanya yang dibuat antara tahun 1980 - 2006 dengan ukuran 1 hingga 3 meter. Sedangkan tema untuk pameran kali adalah " HIDAJAT MERONGGENG LAGI"
| |||||||||
| |||||||||

